Jumlah Nada Pokok Dalam Laras Slendro

Post a Comment
Anda Sedang mencari jawaban di mata pelajaran Seni pada tingkat Sekolah Dasar apakah pertanyaan tentang Tangga Nada Pentatonis Menggunakan Nada Pelog Dan Slindro.jelaskan!

Pada halaman ini juga terdapat video penjelasan tentang TANGGA NADA GAMELAN PELOG DAN SLENDRO - Tangga Nada Pentatonis Menggunakan Nada Pelog Dan Slindro.jelaskan! jangan lupa tonton sampai habis agar lebih faham tentang Tangga Nada Pentatonis Menggunakan Nada Pelog Dan Slindro.jelaskan! Semangat Belajar Sob !!


TANGGA NADA GAMELAN PELOG DAN SLENDRO - Jumlah Nada Pokok Dalam Laras Slendro

Tangga nada gamelan pelog dan slendro menjawab pertanyaan dr kawan2 di kolom komentar. mengenai tangga nada gamelan laras pelog dan slendro.

Jawaban 1 : Tangga Nada Pentatonis Menggunakan Nada Pelog Dan Slindro.jelaskan!

➡tangga nada pentatonis terbagi menjadi dua,yaitu pelog dan slendro.masing masing jenis tangga nada pentatonis mempunyai jarak nada yg berbeda.tangga nada slendro adalah tangga nada yg memiliki karakteristik gagah,berani,lincah,gembira.➡slendro merupakan sistem urutan nada,terdiri dr 5 nada dalam satu gambyang.susunqn nada ⬇ .2 - 1/2 -1 - 2- 1/2 / 1- 3 -4 -5 -7 1➡tangga nada pelog merupakan urutan nada yg terdiri dr 5 atau tujuh nada 1 - 1 -1 1/2 - 1 - 1 1/2 / 1 -2 - 3 - 5 - 6 - 1(di atas angka satu ada titik)

Semangat Sob !! Semoga Membantu ..

Jawaban 2 : Tangga Nada Pentatonis Menggunakan Nada Pelog Dan Slindro.jelaskan!


Sléndro atau kadangkala dieja sebagai saléndro adalah satu di antara dua skala dari gamelan musik. Skala ini lebih mudah untuk mengerti daripada pelog ataupun skala yang lain, karena adalah secara mendasar hanya lima nada dekat yang berjarak hampir sama dalam satu oktaf.
Menurut mitologi Jawa, Gamelan Slendro lebih tua usianya daripada Gamelan Pelog. Slendro memiliki 5 (lima) nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 (
C- D E+ G A) dengan interval yang sama atau kalau pun berbeda perbedaan intervalnya sangat kecil. Pelog memiliki 7 (tujuh) nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 6 7 (
C+ D E- F# G# A B) dengan perbedaan interval yang besar.
Oleh karena itu skala musik ini mempunyai interval sempurna keempat yang lebih sempit, sekitar 480 sen, berbeda dengan interval pelog yang lebih lebar.
Tangga nada slendro biasa disebut dengan
Nomor
Angka Jawa
Nama Tradisional
Nama penuh
Nama pendek
Nama penuh
Makna harfiah1 siji ji panunggal kepala2 loro ro gulu leher3 telu lu dada dada5 lima ma lima tangan (lima jari)6 enam nam enam tidak diketahui
Asal mula skala slendro tidak jelas. Akan tetapi istilah slendro berasal dari nama Sailendra, wangsa penguasa Kerajaan Medang dan Sriwijaya. Skala Slendro diduga dibawa ke Sriwijaya oleh pendeta Buddha Mahayana dari Gandhara di India, melalui Nalanda dan Sriwijaya, dari sana berkembang ke Jawa dan Bali.[3]
Pelog (bahasa Jawa: pélog) adalah satu dari dua tangga nada (dalam literatur sering disebut juga sebagai "laras") pokok dipakai dalam musik gamelan asli dari masyarakat di Pulau Bali (juga sebagian Pulau Lombok) dan Pulau Jawa di Indonesia. Laras yang lainnya adalah slendro. Tangga nada pelog dibentuk dengan cara merangkaikan interval sempurna keempat dengan interval yang cukup lebar, sekitar 515 sampai 535 sen. Interval ini berada pada jarak yang ekstrem yang dapat didengar sebagai interval keempat.
Laras pelog yang lengkap memiliki tujuh nada yang berbeda (suatu rangkaian dari enam interval keempat), tetapi biasanya suatu komposisi akan ditulis dalam lima nada. Dalam pengajaran tradisional, ketujuh nada dalam skala pelog disebut bem, gulu, dada, papat, lima, nem, dan barang.
Nada dalam skala dengan dua interval yang berbeda, dilambangkan dengan L dan S, adalah: gulu-
S-dada-
L-pelog-
S-lima-
S-nem-
S-barang-
L-bem-
S-gulu. Dalam hal ini, S adalah sekitar 110-150 sen dan L adalah sekitar 250-300 sen.
Kalau disetarakan dengan tangga nada diatonis, susunan tangga nada pelog kurang lebih sama dengan susunan tangga nada mayor (do, re, mi, fa, so, la, si, do). Hanya yang dominan digunakan di daerah yaitu 5 nada (do, mi, fa, sol, si, do) sedangkan yang duanya (re, dan la) menjadi nada sisipan. Nada sisipan bukannya tidak digunakan tetapi jarang hanya untuk lagu-lagu tertentu saja yang ada unsur sisipannya.

Semangat Sob !! Semoga Membantu ..

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter